Filed under: Uncategorized | Tags: bulan madu, eliana widjaya, marriage, pernikahan, rumah tangga
Sudah ketemu. Calon istri saya. Namanya Eliana Widjaya. Sampai kemarin saya masih berpikir nama yang cocok adalah Eliana Tanudibyo. Baru tadi pagi saya kepikiran nama ini dan merasa cocok. Nama belakang kami sama-sama berakhiran jaya. Nama yang tidak terdengar kampungan seperti yg saya perkirakan sebelumnya.
Eliana suka dipanggil Lina. Biasa sekali. Tapi saya begitu terpesona padanya. Kulitnya yang kecoklatan begitu eksotis. Halus & terawat. Rambutnya yang bergelombang di high light emas. Cocok sekali dengan warna kulitnya. Ia lebih tinggi daripada saya. 171 cm. Tidak masalah untuk saya. Saya suka melihat kakinya yang jenjang.
Tubuhnya terbentuk indah. Membuat saya selalu terpukau akan lekukannya. Siluetnya begitu menawan saat mengenakan gaun malam yang tertiup angin. I love her so much.
Dia agak agresif & terbuka. Dia tidak terbiasa mengontrol kata-kata yang keluar dr mulutnya. Kemarin kami bertengkar saat memilih cincin kawin yg cocok. Saya suka yg minimalis, sedangkan dia suka yg ada hiasan2nya. Oh ya, satu lagi tentang dia, dia sangat memaksakan kehendak. Tentu saja hal itu membuat saya marah. Saya sempat menamparnya & berkata wanita jalang dihadapannya. Setelah lama bertengkar, akhirnya ia menuruti kemauan saya. Dia belajar satu hal dari situ. Bahwa bagaimanapun kerasnya dia, tetap tidak akan bisa menjatuhkan saya.
Dia pun sudah jinak saat kemudian saya mengajaknya pengantin. Saya memilih yang berwarna emas untuknya. Saya sendiri memilih memakai tuxedo formal berwarna putih gading dengan ornamen2 berwarna emas pula.
Kami menikah tadi pagi. Suasana yang sakral. Tidak dihadiri banyak orang. Hanya orang-orang terdekat. Oh ya, terima kasih untuk sahabat terdekat saya, Akhmad Imron Fauzi, yg membantu mempersiapkan semuanya. Dia terlihat bahagia sekali.
Sekarang kami sedang berbulan madu di land of romantism. Kami merencanakan seorang bayi. Di tempat seindah ini, tampaknya akan cukup mudah..(*)
Filed under: Uncategorized | Tags: istri, menikah, perkawinan, rumah tangga
Coba tebak! Saya berencana menikah. Saya suah merencanakan ini dr bbrp minggu lalu. Tapi sy belum menentukan tanggal pastinya. Tunggu saja, mungkin minggu depan. Saya benar2 tidak sabar.
Sementara itu, sy mungkin akan menghabiskan waktu merancang calon istri saya. Wajah, tubuh, & sifat2nya. Saya juga akan merencanakan bagaimana kehidupan perkawinan kami nanti. Mungkin tidak selamanya bahagia. Saya ingin membuat saat2 dimana keadaan rumah tangga kami jadi sangat berbeda. Sedikit suram & dingin. Sedikit ketakutan boleh jadi akan sangat menarik.
Wow!! Saya benar2 tidak sabar.
Mungkin kalian bisa memberi saya saran tentang bagaimana sebaiknya saya merancangnya. Mulai dari yang sederhana, nama saja. Nama yang indah tentunya. Hmm.. Saya mulai memikirkan kira2 siapa namanya. Bagaimana kalau Diana? Atau Louisa? Terdengar terlalu barat ya? Bisakah kita coba Eneng? Terdengar kampungan? But, why not? Mungkin wanita yg kampungan bisa jauh lebih menarik. Bisa lebih mudah dibuat & dikendalikan.
Fiuuhh… Saya benar2 excited. Tunggu saja sementara saya merancang ini semua. Saya akan membuatnya begitu luar biasa.(*)
Filed under: Uncategorized | Tags: herman sanjaya, kepribadian, life, story
Nama saya Herman Sanjaya. Saya tak mau dipanggil Herman saja atau Sanjaya saja. Panggil saya Herman Sanjaya. Saya tumbuh sebagai pribadi yang kurang diinginkan. Saya tumbuh sebagai pengesampingan. Saya adalah bentukan yang tidak dibentuk oleh orang lain. Saya terbentuk sebagai diri saya sendiri, menemukan kepribadian saya sendiri & tidak terkekang oleh kebakuan yg mengikat sebagian besar orang lain.
Anda mungkin memandang saya sebagai seseorang yang aneh. Tapi Anda tidak benar2 mengenal saya atau bagaimana kehidupan saya yang seringkali dianggap absurd berkembang. Tapi saya, dan kehidupan saya, memang benar2 berkembang. Meskipun hanya sebagai suatu sistem yang terpola semuanya secara imajiner. Tapi Anda tidak akan pernah tahu kan? Anda tidak dapat menjamin apakah saya hanya akan terus berada dalam dimensi saya sendiri, atau malah berlari keluar dan mengambil bentuk yang nyata. Nobody knows.
Kehidupan saya, sungguh unik. Sekali lagi, saya tidak terikat oleh kebakuan masyarakat. Saya adalah individu bebas yang bertingkah & berperilaku dengan landasan insting. Karena dari instinglah naluri manusia yang paling dasar lahir. Hmm.. Manusia ya.. Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda adalah manusia. Yakinkah Anda akan keberadaan manusia itu sendiri. Lihat sekeliling Anda. Lihat semua orang yang berseliweran dihadapan Anda. Benarkah mereka manusia sesuai definisi Anda. Apakah mereka benar2 nyata. Iya? Yakinkah Anda? Bagaimana kalau saya katakan mereka itu hanyalah manipulasi visual Anda. Lalu kenapa bisa Anda raba? Bisa Anda sentuh? Baiklah, mereka adalah manipulasi yang utuh. Otak Anda bisa saja yang menciptakan itu semua. Artinya, Anda merancang orang2, merancang pemandangan, merancang kehidupan. Bagaimana? Masih berpikir seperti sebelumnya?
Kalau misalnya saya tidak melihat apa2, namun otak saya memerintahkan yg sebaliknya, maka saya akan melihat sesuatu. Kalau misalnya saya tidak menyentuh apa2, namun otak saya mengatakan sebaliknya, maka saya akan merasakan sesuatu. Diri Andalah yang memegang kendali penuh. Pikiran Anda lebih tepatnya. Itulah mengapa Anda sering melihat sugesti pikiran sebagai kekuatan yang luar biasa.
Anda mungkin ingin mengajukan pertanyaan. Apakah sebenarnya saya sampai harus membuat Anda bingung dengan pemikiran saya? Bahkan saat membaca ini, Anda mungkin berpikir bahwa pikiran Anda juga tanpa sadar telah menciptakan saya. Tidak usah khawatir. Saya belum dapat menjelaskan diri saya sendiri. Yang jelas, saya adalah orang lain, dan saya tumbuh dengan sangat berbeda.