Mimpi

Herman,

Aku ingin bercerita padamu tentang mimpi. Bukan mimpi ingin jadi apa atau cita-cita, tapi mimpi dalam arti yang lebih harfiah, mimpi dalam tidur. Saat kutuliskan padamu catatan ini, sebenarnya telah ada padaku buku Psikoanalisis Sigmund Freud yang kupinjam dari perpustakaan jurusan (siapa sangka ada buku semacam itu di sana?). Termasuk di dalamnya ada sebuah bab yang khusus membahas perkara mimpi, bersama dengan tafsirnya. Aku tahu karena tercantum di daftar isi. Tapi, Herman, bab itu bukannya pendek. Dan aku harus punya komitmen khusus jika ingin membacanya sungguh-sungguh, padahal minggu-minggu ini adalah apa yang kusebut sebagai minggu kritis. Minggu-minggu menjelang pekan terakhir perkuliahan. Tugas-tugas besar berganti-rebut minta perhatian. Maka, untuk sementara, kuceritakan saja dulu padamu mimpi-mimpi itu, lantas mencoba mencari tahu artinya (jika memang ada dan begitu menariknya) belakangan.

Inilah yang membuatku menulis catatan ini untukmu: suatu waktu yang belum lama ini aku bermimpi tentang satu hal yang baru kusadari ternyata polanya cukup sering terjadi dalam mimpi-mimpiku yang lain. Barangkali tidak sesering itu, tapi paling tidak aku mengalaminya beberapa kali. Mimpi tersebut menggambarkan aku yang sedang melayang. Bukan terbang, sebab rasanya aku tidak punya kekuasaan untuk berkehendak atau menentukan arah seperti burung. Melayang barangkali juga tidak tepat betul. Aku lebih seperti pelampung kecil pada kail pancing. Mengapung di permukaan air, lalu ditarik ke sana kemari. Kadang tinggi-meninggi, kadang bergeser saja pada batas apung.

Aku juga ingat bahwa dalam mimpi-mimpi tersebut, lebih sering aku seperti ditarik pada punggungku. Aku melayang menghadap belakang. Pada satu mimpi, di bawahku adalah hamparan hijau yang luas. kadang bukit, atau hutan, atau padang. Pepohonan di bawah kakiku tampak seperti brokoli yang bercokol rapi. Aku melayang cukup jauh sampai mimpi itu berhenti begitu saja.

Baru semalam, aku bermimpi lagi (sesungguhnya aku bermimpi tiap malam, tapi soal melayang ini tentu kadang-kadang saja terjadinya). Dalam mimpiku aku melihat diriku sendiri yang sedang tidur, mungkin juga posisi tidurku yang sebenarnya saat bermimpi itu. Lalu aku merasa seperti ruh yang dipisahkan dari jasadnya. Perlahan-lahan ruhku melepaskan diri dari tubuh seperti stiker yang ditarik lepas dari kertas licinnya. Kaki dulu, lalu berangsur ke kepala (ataukah kepala dulu berangsur ke kaki?). Lalu aku melayang, lagi-lagi seperti ditarik pada punggungku, dari kamar ke ruang depan, menyaksikan bapak-ibu dan adikku tidur bergeletakan di atas kasur yang digelar di depan tivi (begitulah keluargaku tidur tiap malam Herman). Kelak, saat aku bangun, pastilah aku mengira pengalaman astral tersebut benar-benar terjadi padaku kalau saja tidak kuamati letak barang-barang yang tidak sesuai di ruang depan. Sisanya terasa cukup sama dengan aslinya.

Mungkin aku terlalu termakan oleh ide film Insidious, Herman. Diam-diam aku ingin memiliki kemampuan untuk mengalami perjalanan astral. Makanya aku bermimpi begitu. Lagipula, inilah sesungguhnya mimpi yang membuatku benaran menulis catatan ini:

Aku berada di kampus, tepatnya dalam kelas studio di gedung F. Barangkali bosan (mungkin aku sedang mengikuti kelas Tapak, kau tahu betapa membosankannya kelas itu bagiku), aku melangkah keluar menuju halaman berrumput. Saat itulah, lagi-lagi, aku ditarik melayang lalu diputar pada punggungku. Kusaksikan benda-benda semakin mengecil di bawah kakiku. Tapi langitnya, Herman, aku tidak pasti. Apakah malam, apakah subuh, ataukah sore atau siang yang mendung. Langitnya gelap, tapi tidak pekat. Mungkin abu-abu kecoklatan yang bening cerah, seperti kaca film yang dilihat dari dalam. Langit itu melatarbelakangi gedung-gedung di bawah yang tinggal kelihatan atap gentengnya.

Makin lama pemandangan yang kulihat makin gambar saja. Aku bahkan bisa melihat jelas warna genteng yang oranye terang, bukannya buram karena gelap. Jadi, mungkin latar belakang itu memang bukan langit, tapi cuma kaca film raksasa yang terlihat dari sisi dalam -meskipun kuingat ada bulan yang bersinar pucat di sana, tunggu, berarti itu memang malam hari?

night

Aku masih ditarik meninggi pada sebuah kail di punggungku dan melihat gedung-gedung di bawah kakiku. Saat itu aku merasa pemandangan tersebut -atap oranye cerah dan kaca film raksasa sebagai latar belakang- sudah benar-benar seperti kartu pos raksasa. Dan siapa sangka, saat aku sudah cukup tinggi, kulihat di seberang jauh sana ada kartu pos lain yang sama persis gambarnya diletakkan di sebelah kartu pos yang pertama. Tapi gambarnya dibalik! Keduanya diletakkan bersisian, tapi tidak berkebalikan kanan-kiri seperti dibatasi cermin, melainkan atas-bawah.

Satu hal, Herman, meskipun belajar tentang arsitektur dan akrab dengan gambar-gambar, dalam mimpi pengetahuan tentang perspektif benar-benar tidak berguna. Jadi, sekali lagi biar kugambarkan apa yang kulihat. Atap-atap gedung dengan genteng oranye cerah dan langit kaca film abu-abu kecoklatan bagiku awalnya adalah visual benda yang ditangkap oleh mata. Lama-lama kelamaan aku sadar itu hanyalah kartu pos berukuran raksasa, akulah yang terlalu kecil. Saat sadar demikian, ada kartu pos lain, dengan gambar sama persis dan ukuran sama besarnya, diletakkan terbalik di sebelahnya pada sisi yang jauh dariku. Pelajaran tentang perspektif sama sekali tidak akan membantu untuk memahami gambaran yang seperti itu.

Masih melayang dan meninggi, kali ini kulihat hitam pekat ternyata melatarbelakangi kartu pos-kartu pos raksasa tadi. Kali ini aku bisa lebih pasti soal langit yang menunjukkan malam hari. Apakah tadi kubilang ada bulan bersinar pucat pada “langit” kartu pos? Harus kuralat, tidak ada gambar bulan di kartu pos. Tapi memang ada bulan pada hitam langit malam yang kali ini jadi latar belakang kartu pos-kartu pos raksasa tadi. Biar kuulangi lagi agar lebih jelas. Apa yang awalnya kuanggap sebagai “langit” ternyata hanya gambar latar belakang pada sebuah kartu pos raksasa. Barangkali itu bukan langit, tapi kaca film raksasa karena warnanya yang abu-abu kecokelatan bening cerah. Tapi sekarang ada langit sungguhan -langit malam sebab warnanya lebih pekat gelap dan ada bulan menggantung- yang melatarbelakangi kartu pos-kartu pos raksasa bersisian-terbalik tadi.

Lalu, entah darimana datangnya, kulihat ada hantu melayang-layang di langit! Ada kuntilanak dan pocong, atau mungkin juga hantu jenis lain, sebab penampakan mereka tidak jelas betul, hampir mirip gambar kartun (astaga! barangkali jika aku melayang sedikit lebih tinggi akan kudapati kartu pos yang lebih besar lagi!).

Tapi aku sungguhan takut saat melihat hantu-hantu itu, Herman. Saat itulah aku seperti mendapat pencerahan kesadaran (kelak saat kupikirkan kembali gagasan tersebut aku merasa cukup konyol). Aku teringat film Insidious yang mengisahkan seorang anak dengan kemampuan astral projection, berkelana ke berbagai tempat dengan ruh yang terlepas dari jasadnya. Ia yang tidak paham menganggap perjalanannya melayang-layang kesana-kemari adalah mimpi belaka. Saat itulah ia mendapat kemalangan. Jiwanya yang muda berkelana terlalu jauh dan tersesat di The Further, dunia tempat roh-roh halus berkeliaran penasaran sebab mereka adalah jiwa tanpa jasad. Si anak tak dapat lagi kembali ke jasadnya. Jika tidak segera mendapat pertolongan, jasadnya dapat diambil alih oleh roh-roh jahat yang ingin lahir kembali ke dunia kasat sebab mereka ingin kembali merasai hidup dan berwujud.

Dan aku telah melayang cukup jauh sampai melihat hantu! Wajar jika aku takut nasib buruk yang sama menimpaku: menjadi jiwa yang tersesat sementara tubuhku di dunia yang kasat mengalami koma -itulah yang terjadi pada tubuh si anak saat ia mulai tersesat di The Further. Lebih buruk lagi saat tubuhku yang sudah kosong bagai selongsong dijadikan rebutan makhluk-makhluk bengis yang ingin kembali merasai hidup di alam wujud, meninggalkan jiwaku yang selamanya melayang terombang-ambing di langit.

Dikuasai rasa takut yang amat sangat, aku berusaha “membangunkan” diriku sendiri dari mimpi. Aku pejamkan mata sekuat tenaga, berusaha berkonsentrasi dan berharap aku sudah kembali ke atas dipanku yang nyaman saat membuka mata. Tidak berhasil! Aku coba beberapa kali dan masih tidak berhasil. Duniaku menciut jadi rasa takut.

Untunglah, mimpi itu kemudian berhenti begitu saja. Perlu aku ingatkan, meskipun saat kutulis ini bahkan aku sendiri pun menganggap mimpi tersebut sebagai kekonyolan, rasa takut yang kualami saat itu terasa sangat nyata. sebab mimpi kadang merancukan pikiran yang nyata-sadar dan nyata-tidak-sadar. Pernahkah kau tidur dan bermimpi, lalu merasa sudah bangun, padahal sesungguhnya “bangun tidur”-mu itu masih dalam alam mimpi? Kamu masih tidur. Kamu masih bermimpi. Tapi kamu memimpikan dirimu yang tidak lagi bermimpi. Kamu merasa nyata-nyata bangun saat nyatanya kamu belum bangun. Membingungkan ya?

Begitulah. Aku -yang merasa seperti tokoh film Insidious– langsung menyadari bahwa aku bermimpi, tapi “kesadaran mimpi”-ku terasa seperti “kesadaran nyata” sehingga aku mengira mimpiku terkait dengan alam nyata. “Kesadaran mimpi” mengelabuiku dengan membuat dirinya terasa seperti “kesadaran nyata”. Tipuan mimpi, kukira.

Sekarang, saat aku menulis kata ini, aku semakin sadar bahwa mimpiku tadi memang cuma mimpi yang acak adut. Kau tahu, Herman, ada mimpi yang jelmaan firasat, wangsit, atau wahyu. Mimpi-mimpi yang kudus -atau mungkin juga klenik. Tapi ada juga mimpi yang hanya bunga tidur. Yang terakhir ini mungkin keresahan atau beban pikiran yang tak cukup menghantui saat matamu melek. Atau bisa jadi cuma memori visual yang saling berkelindan dalam gambaran tidurmu seperti puzzle yang padu bentuknya tapi gambarnya campur aduk. Bunga tidur. Atau mungkin lebih tepatnya pengganggu kualitas tidur -konon tidur yang benar-benar nyenyak adalah tidur tanpa bermimpi.

Barangkali tak usah lagi aku pusing-pusing mencari arti mimpiku tadi. Ternyata menuliskannya saja sudah cukup bikin aku puas. Tapi, entahlah, buku Sigmund Freud masih ada padaku dan aku tampaknya tidak tega menganggurkannya begitu saja. Akan kubaca bab tentang mimpi itu meskipun aku tidak lagi terlalu penasaran.

Sampai di sini dulu. Senang bercerita padamu, Herman!

Sampai nanti,

RF

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s