(Resensi Buku) Maya, Sebuah Kisah Tentang Kesedihan

Judul : Maya

Penulis : Ayu Utami

Penerbit : KPG

Halaman : 232

 

Maya saya baca sebagai kisah tentang kesedihan. Dibanding karya-karya Ayu Utami yang lain, Maya menyeret saya lebih jauh pada rasa melankoli hingga halaman-halaman akhirnya. Pada awalnya, yang menyentil rasa penasaran saya adalah jalan ceritanya yang disebut menghubungkan serial Bilangan Fu -Maya adalah buku ketiga dari serial ini- dengan dwilogi Saman-Larung.

Dikisahkan, setelah dua tahun tiada kabar, Yasmin mulai menerima surat-surat misterius dari Saman. Saman, kekasih gelapnya sekaligus mantan pastor yang berubah haluan jadi aktivis kemanusiaan, hilang setelah ditangkap di perairan Riau dalam upaya penyelundupan tiga aktivis mahasiswa kiri yang jadi buronan rezim ke luar negeri. Bersama surat-surat yang ia kirim, terdapat pula sebuah batu akik misterius. Sebuah batu akik kekuningan dengan mata hitam dan larik-larik yang membentuk citra Semar. Pertandakah?

Didorong oleh rasa cinta pada kekasihnya -yang ia sebut sebagai cinta seorang wanita pada lelaki yang terluka, Yasmin yang tidak dapat mengurai teka-teki surat tersebut memutuskan untuk berkonsultasi pada seorang guru kebatinan, yakni Suhubudi (ha! penggemar seri Bilangan Fu tentu akrab dengan nama ini). Ia lakukan dengan agak terpaksa sebab sesungguhnya ia seorang yang sangat rasional.

Barangkali semakin ia meragu ketika tiba di padepokan Suhubudi, sebuah komplek pemukiman -ataukah desa, ataukah kerajaan- yang baginya terasa aneh; pada bagian terdalamnya, orang tidak boleh bercakap-cakap dengan suara, ia hanya bisa berkata-kata dengan tulisan pada secarik kertas yang dibakar setelah usai perbincangan. Di bagian lain kompleks tersebut, Yasmin merasa berada pada suatu ruang dengan dimensi waktu yang beririsan dan berkelindan; kini dan lampau. Semakin janggal lagi saat ia disuguhi sebuah pertunjukan tari bayang-bayang yang sesungguhnya indah dan mengharukan, tapi membuat ketegangan dan rasa mual akibat jeri tertahan di balik pusar setelah ia tahu para penari yang mementaskannya: segerombol makhluk cebol menjijikkan, manusia berkulit sisik, raksasa-raksasi poleng, serta sosok-sosok dengan rupa mengerikan lainnya. Tidakkah ia telah masuk ke sebuah kerajaan siluman?

Namun, kesedihan dan keputusasaan akan nasib sang kekasih telah meneguhkan hatinya. Bukankah dulu Saman pun pernah bertandang ke situ untuk belajar spiritualitas pertanian -kelak ia menjalani hidup bersama kaum petani karet, sebuah momjen yang mengubah hidupnya. Tapi waktu itu ia masih seorang frater, dan namanya belum Saman, melainkan Wisanggeni. Frater Wis.

Yasmin yang seorang pengacara dengan pola pikir modern barangkali seperti memasuki alam khayalan di padepokan Suhubudi. Tapi, dalam perjalanannya samar-samar ia terbukakan kepada sesuatu yang lain, yaitu cinta. Ia mulai merasakan cinta dalam bentuk yang lain terhadap Saman yang mengejawentah secara indah melalui rasa yang manunggal; ia dan Saman. Rasa tersebut menumbuhkan pula cintanya pada Maya, makhluk cebol albino yang menarikan Sita dalam sendratari Ramayan prakarsa Suhubudi. Sita dalam ideal keindahan yang sama sekali berbeda, namun berhasil dibawakan begitu indah sebab Maya menarikannya sebagai jiwa yang mengatasi raga.

Setelah lewat masa ngerinya, Yasmin mulai dapat merasakan kasih yang mengharukan bagi Maya, yaitu kaum yang tersisih oleh ketidakadilan. Ia mencintai Maya seperti Saman mencintai Upi, gadis gila berwajah ikan yang Saman coba ringankan penderitaannya. Gadis yang membuatnya gigih memberdayakan petani karet di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera. Gadis yang baginya ia ingin berbuat baik tapi itu pun masih salah.

Tapi Maya memang sebuah kisah tentang kesedihan. Kesedihan Yasmin yang kehilangan kekasih. Kesedihan Saman yang telah memilih salib yang salah bagi Upi yang dikasihinya. Kesedihan Maya, wanita mulia yang terjebak dalam raga buruk rupa. Hingga kesedihan negeri yang berlarut-larut dicengkeram oleh tirani.

Ayu membangun melankoli melalui kisah-kisah yang ditautkan dengan kondisi bangsa pada masa itu. Yasmin berpisah dengan Saman karena kekasihnya tertangkap aparat hendak membantu pelarian tiga aktivis mahasiswa yang dianggap kiri karena menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil; tuduhan komunis selalu jadi andalan rezim untuk membungkam sesiapa yang dianggap melawannya. Saman harus berpisah dengan Upi sebab gadis itu terkurung dalam “sangkar emas”-nya saat perkampungan petani karet tempatnya tinggal dibakar oleh oknum yang ingin memapras perkebunan karet dan menggantinya dengan kelapa sawit yang lebih laku di pasaran; demi kemajuan ekonomi dan pembangunan. Parang Jati harus merasakan pedih manakala menyaksikan Paklik Bandowo, pesuruh ayahnya yang setia, dipenggal tangan kanannya atas tuduhan membangkang terhadap program swasembada pangan yang digagas pemerintah. Padahal ia hanya seorang abdi yang ingin menunjukkan bakti terhadap ndoro-nya dengan turut menanam padi purba dari jaman Majapahit, bukannya padi hibrida lekas panen seperti yang diinstruksikan pemerintah. Tuyul dan gerombolan manusia aneh lain yang dipelihara Suhubudi di padepokannya merasa sedih sebab mereka telah dikalahkan. Saluran benih mereka telah dimatikan melalui vasektomi agar tidak berbuah. Waktu itu, pemerintah gencar mempromosikan program Keluarga Berencana (KB). Segerombolan manusia siluman tentu tidak masuk dalam apa yang direncanakan tersebut, maka harus disingkirkan, atau paling tidak dicegah supaya tidak beranak-pinak lebih banyak lagi. Biar populasi mereka hilang dengan sendirinya.

Perhatikanlah, ia berkisah sekaligus mengkritisi. Menghibur (atau mungkin membikin sedih) sekaligus memperkaya. Lebih penting lagi, ia tahu betul bagaimana menggulirkan cerita dengan baik sehingga pembaca tinggal hanyut saja bersama jalinan kisah yang ia rangkai. Tuturan yang apik menurut ukuran saya memang adalah kekuatan utama pengarang wanita kelahiran Bogor ini. Dalam setiap bukunya, Ayu selalu memadukan ramuan cerita yang berbobot dan tema beragam dengan diksi yang menarik serta penuturan yang runtut dan jernih. Tema-tema yang berat macam politik, sejarah, spiritualitas, seksualitas, dsb. ia kemas dengan manis dalam cerita fiksi romantis. Itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan penulis satu ini. Saya memang tak pernah suka bacaan yang terlalu kaku dan ruwet.

Meskipun disebut menghubungkan serial Bilangan Fu dengan dwilogi Saman-Larung, menurut saya Maya lebih dekat kepada yang kedua daripada yang pertama, baik secara kronologi dan keberlanjutan kisah maupun tema yang diangkat. Maya berlatar utama masa reformasi 1998, melanjutkan kisah Saman-Larung yang berlangsung pada masa orde baru. Pada bagian akhir, Ayu bahkan mencantumkan secara kronologis peristiwa-peristiwa penting menjelang hingga pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Termasuk di dalamnya adalah acara peluncuran novel perdananya, Saman, yang berbarengan dengan tragedi kerusuhan besar-besaran di Jakarta kala itu. Sementara, pertautannya dengan novel Bilangan Fu dan serial turunannya hanya sebatas tokoh, yakni Suhubudi, Parang Jati, dan gerombolan manusia aneh Klan Saduki (walaupun tokoh Maya belum muncul pada novel-novel yang lebih dulu).

Biar bagaimanapun, toh semua karya Ayu Utami selalu terikat dengan benang merah tema yang sama: kemanusiaan dan keluasan pikiran. Ah, paling tidak saya menafsir demikian. Buku ini pun masih mewakili satu kata yang selalu saya pakai untuk menggambarkan karya-karyanya: KAYA. Bumbu-bumbu cerita tidak cuma disisipkan ala kadarnya, tapi menghidupkan dan membangun kepaduan kisah serta sungguhan membuatnya jadi gurih. Seperti cerita tentang mustika batu akik Supersemar yang konon menjadi legitimasi dunia gaib terhadap pemegang tampuk kekuasaan negeri. Atau cerita tentang Eyang Semar sebagai figur harafiah yang disembah dijunjung tinggi oleh Maya, sebab ia adalah bentuk kebijaksanaan dewata yang mulia lagi luhur, namun dengan rendah hati sudi mewujud dalam sosok yang buruk rupa, sebagaimana Maya dan kaumnya yang tersempal dari keelokan dunia.

Tetapi Maya tetap menyisakan ketidakpuasan. Ah, lebih tepatnya rasa penasaran pada sejumput teka-teki yang masih belum terang pada akhir cerita. Celah bagi para pembaca untuk menafsir atau celah bagi penulis untuk mengembangkan kisahnya dalam buku lain yang akan datang? Entahlah. Pada akhirnya, bagi saya buku ini tetap menerbitkan rasa syur bahkan sejak membaca sinopsis hingga mengkhatamkan halaman terakhirnya. (*)

 

Catatan: penuturan dalam beberapa bagian tulisan ini, terutama tentang kisah yang jadi isi buku, sengaja saya buat sama atau hampir sama dengan yang dituliskan Ayu Utami dalam buku aslinya.