Do’a SMALAPALA

Rock and Roll [MATH] Teacher

Tuhanku,

Bentuklah warga SMALAPALA menjadi manusia yang cukup berani

Untuk menyadari kelemahannya

Dan berani menghadapi dirinya sendiri manakala dia takut.

Manusia yang tetap teguh dalam kekalahan,

Tetapi jujur, rendah hati, serta berbudi halus dalam kemenangan.

Bentuklah warga SMALAPALA menjadi manusia

Yang cita-citanya tak pernah padam

Dan sanggup mewujudkannya dalam tindakan

Warga SMALAPALA yang insyaf bahwa mengenal dirinya adalah landasan ilmu pengetahuan

 

Tuhanku,

Kami mohon supaya warga SMALAPALA tidak tumbuh di atas jalan yang mudah dan lunak,

Tapi tumbuh dan Kau pimpin dalam desakan dan tantangan,

Agar mereka dapat berdiri kokoh di tengah badai

Warga SMALAPALA yang sanggup memenangkan hari depan,

Dan tidak lupa belajar dari masa lampau.

Dan setelah semua menjadi miliknya,

Kami masih memohon supaya warga SMALAPALA diberi perasaan jenaka

Agar mereka dapat bersungguh-sungguh tanpa terlampau bersungguh-sungguh

Karuniailah mereka kerendahan hati dan bimbinglah mereka agar selalu ingat akan Engkau,

Sebagai sumber kesederhanaan dan keagungan yang asli Sebagai sumber…

View original post 23 more words

(Resensi Buku) Maya, Sebuah Kisah Tentang Kesedihan

Judul : Maya

Penulis : Ayu Utami

Penerbit : KPG

Halaman : 232

 

Maya saya baca sebagai kisah tentang kesedihan. Dibanding karya-karya Ayu Utami yang lain, Maya menyeret saya lebih jauh pada rasa melankoli hingga halaman-halaman akhirnya. Pada awalnya, yang menyentil rasa penasaran saya adalah jalan ceritanya yang disebut menghubungkan serial Bilangan Fu -Maya adalah buku ketiga dari serial ini- dengan dwilogi Saman-Larung.

Dikisahkan, setelah dua tahun tiada kabar, Yasmin mulai menerima surat-surat misterius dari Saman. Saman, kekasih gelapnya sekaligus mantan pastor yang berubah haluan jadi aktivis kemanusiaan, hilang setelah ditangkap di perairan Riau dalam upaya penyelundupan tiga aktivis mahasiswa kiri yang jadi buronan rezim ke luar negeri. Bersama surat-surat yang ia kirim, terdapat pula sebuah batu akik misterius. Sebuah batu akik kekuningan dengan mata hitam dan larik-larik yang membentuk citra Semar. Pertandakah?

Didorong oleh rasa cinta pada kekasihnya -yang ia sebut sebagai cinta seorang wanita pada lelaki yang terluka, Yasmin yang tidak dapat mengurai teka-teki surat tersebut memutuskan untuk berkonsultasi pada seorang guru kebatinan, yakni Suhubudi (ha! penggemar seri Bilangan Fu tentu akrab dengan nama ini). Ia lakukan dengan agak terpaksa sebab sesungguhnya ia seorang yang sangat rasional.

Barangkali semakin ia meragu ketika tiba di padepokan Suhubudi, sebuah komplek pemukiman -ataukah desa, ataukah kerajaan- yang baginya terasa aneh; pada bagian terdalamnya, orang tidak boleh bercakap-cakap dengan suara, ia hanya bisa berkata-kata dengan tulisan pada secarik kertas yang dibakar setelah usai perbincangan. Di bagian lain kompleks tersebut, Yasmin merasa berada pada suatu ruang dengan dimensi waktu yang beririsan dan berkelindan; kini dan lampau. Semakin janggal lagi saat ia disuguhi sebuah pertunjukan tari bayang-bayang yang sesungguhnya indah dan mengharukan, tapi membuat ketegangan dan rasa mual akibat jeri tertahan di balik pusar setelah ia tahu para penari yang mementaskannya: segerombol makhluk cebol menjijikkan, manusia berkulit sisik, raksasa-raksasi poleng, serta sosok-sosok dengan rupa mengerikan lainnya. Tidakkah ia telah masuk ke sebuah kerajaan siluman?

Namun, kesedihan dan keputusasaan akan nasib sang kekasih telah meneguhkan hatinya. Bukankah dulu Saman pun pernah bertandang ke situ untuk belajar spiritualitas pertanian -kelak ia menjalani hidup bersama kaum petani karet, sebuah momjen yang mengubah hidupnya. Tapi waktu itu ia masih seorang frater, dan namanya belum Saman, melainkan Wisanggeni. Frater Wis.

Yasmin yang seorang pengacara dengan pola pikir modern barangkali seperti memasuki alam khayalan di padepokan Suhubudi. Tapi, dalam perjalanannya samar-samar ia terbukakan kepada sesuatu yang lain, yaitu cinta. Ia mulai merasakan cinta dalam bentuk yang lain terhadap Saman yang mengejawentah secara indah melalui rasa yang manunggal; ia dan Saman. Rasa tersebut menumbuhkan pula cintanya pada Maya, makhluk cebol albino yang menarikan Sita dalam sendratari Ramayan prakarsa Suhubudi. Sita dalam ideal keindahan yang sama sekali berbeda, namun berhasil dibawakan begitu indah sebab Maya menarikannya sebagai jiwa yang mengatasi raga.

Setelah lewat masa ngerinya, Yasmin mulai dapat merasakan kasih yang mengharukan bagi Maya, yaitu kaum yang tersisih oleh ketidakadilan. Ia mencintai Maya seperti Saman mencintai Upi, gadis gila berwajah ikan yang Saman coba ringankan penderitaannya. Gadis yang membuatnya gigih memberdayakan petani karet di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera. Gadis yang baginya ia ingin berbuat baik tapi itu pun masih salah.

Tapi Maya memang sebuah kisah tentang kesedihan. Kesedihan Yasmin yang kehilangan kekasih. Kesedihan Saman yang telah memilih salib yang salah bagi Upi yang dikasihinya. Kesedihan Maya, wanita mulia yang terjebak dalam raga buruk rupa. Hingga kesedihan negeri yang berlarut-larut dicengkeram oleh tirani.

Ayu membangun melankoli melalui kisah-kisah yang ditautkan dengan kondisi bangsa pada masa itu. Yasmin berpisah dengan Saman karena kekasihnya tertangkap aparat hendak membantu pelarian tiga aktivis mahasiswa yang dianggap kiri karena menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil; tuduhan komunis selalu jadi andalan rezim untuk membungkam sesiapa yang dianggap melawannya. Saman harus berpisah dengan Upi sebab gadis itu terkurung dalam “sangkar emas”-nya saat perkampungan petani karet tempatnya tinggal dibakar oleh oknum yang ingin memapras perkebunan karet dan menggantinya dengan kelapa sawit yang lebih laku di pasaran; demi kemajuan ekonomi dan pembangunan. Parang Jati harus merasakan pedih manakala menyaksikan Paklik Bandowo, pesuruh ayahnya yang setia, dipenggal tangan kanannya atas tuduhan membangkang terhadap program swasembada pangan yang digagas pemerintah. Padahal ia hanya seorang abdi yang ingin menunjukkan bakti terhadap ndoro-nya dengan turut menanam padi purba dari jaman Majapahit, bukannya padi hibrida lekas panen seperti yang diinstruksikan pemerintah. Tuyul dan gerombolan manusia aneh lain yang dipelihara Suhubudi di padepokannya merasa sedih sebab mereka telah dikalahkan. Saluran benih mereka telah dimatikan melalui vasektomi agar tidak berbuah. Waktu itu, pemerintah gencar mempromosikan program Keluarga Berencana (KB). Segerombolan manusia siluman tentu tidak masuk dalam apa yang direncanakan tersebut, maka harus disingkirkan, atau paling tidak dicegah supaya tidak beranak-pinak lebih banyak lagi. Biar populasi mereka hilang dengan sendirinya.

Perhatikanlah, ia berkisah sekaligus mengkritisi. Menghibur (atau mungkin membikin sedih) sekaligus memperkaya. Lebih penting lagi, ia tahu betul bagaimana menggulirkan cerita dengan baik sehingga pembaca tinggal hanyut saja bersama jalinan kisah yang ia rangkai. Tuturan yang apik menurut ukuran saya memang adalah kekuatan utama pengarang wanita kelahiran Bogor ini. Dalam setiap bukunya, Ayu selalu memadukan ramuan cerita yang berbobot dan tema beragam dengan diksi yang menarik serta penuturan yang runtut dan jernih. Tema-tema yang berat macam politik, sejarah, spiritualitas, seksualitas, dsb. ia kemas dengan manis dalam cerita fiksi romantis. Itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan penulis satu ini. Saya memang tak pernah suka bacaan yang terlalu kaku dan ruwet.

Meskipun disebut menghubungkan serial Bilangan Fu dengan dwilogi Saman-Larung, menurut saya Maya lebih dekat kepada yang kedua daripada yang pertama, baik secara kronologi dan keberlanjutan kisah maupun tema yang diangkat. Maya berlatar utama masa reformasi 1998, melanjutkan kisah Saman-Larung yang berlangsung pada masa orde baru. Pada bagian akhir, Ayu bahkan mencantumkan secara kronologis peristiwa-peristiwa penting menjelang hingga pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Termasuk di dalamnya adalah acara peluncuran novel perdananya, Saman, yang berbarengan dengan tragedi kerusuhan besar-besaran di Jakarta kala itu. Sementara, pertautannya dengan novel Bilangan Fu dan serial turunannya hanya sebatas tokoh, yakni Suhubudi, Parang Jati, dan gerombolan manusia aneh Klan Saduki (walaupun tokoh Maya belum muncul pada novel-novel yang lebih dulu).

Biar bagaimanapun, toh semua karya Ayu Utami selalu terikat dengan benang merah tema yang sama: kemanusiaan dan keluasan pikiran. Ah, paling tidak saya menafsir demikian. Buku ini pun masih mewakili satu kata yang selalu saya pakai untuk menggambarkan karya-karyanya: KAYA. Bumbu-bumbu cerita tidak cuma disisipkan ala kadarnya, tapi menghidupkan dan membangun kepaduan kisah serta sungguhan membuatnya jadi gurih. Seperti cerita tentang mustika batu akik Supersemar yang konon menjadi legitimasi dunia gaib terhadap pemegang tampuk kekuasaan negeri. Atau cerita tentang Eyang Semar sebagai figur harafiah yang disembah dijunjung tinggi oleh Maya, sebab ia adalah bentuk kebijaksanaan dewata yang mulia lagi luhur, namun dengan rendah hati sudi mewujud dalam sosok yang buruk rupa, sebagaimana Maya dan kaumnya yang tersempal dari keelokan dunia.

Tetapi Maya tetap menyisakan ketidakpuasan. Ah, lebih tepatnya rasa penasaran pada sejumput teka-teki yang masih belum terang pada akhir cerita. Celah bagi para pembaca untuk menafsir atau celah bagi penulis untuk mengembangkan kisahnya dalam buku lain yang akan datang? Entahlah. Pada akhirnya, bagi saya buku ini tetap menerbitkan rasa syur bahkan sejak membaca sinopsis hingga mengkhatamkan halaman terakhirnya. (*)

 

Catatan: penuturan dalam beberapa bagian tulisan ini, terutama tentang kisah yang jadi isi buku, sengaja saya buat sama atau hampir sama dengan yang dituliskan Ayu Utami dalam buku aslinya.

Mimpi

Herman,

Aku ingin bercerita padamu tentang mimpi. Bukan mimpi ingin jadi apa atau cita-cita, tapi mimpi dalam arti yang lebih harfiah, mimpi dalam tidur. Saat kutuliskan padamu catatan ini, sebenarnya telah ada padaku buku Psikoanalisis Sigmund Freud yang kupinjam dari perpustakaan jurusan (siapa sangka ada buku semacam itu di sana?). Termasuk di dalamnya ada sebuah bab yang khusus membahas perkara mimpi, bersama dengan tafsirnya. Aku tahu karena tercantum di daftar isi. Tapi, Herman, bab itu bukannya pendek. Dan aku harus punya komitmen khusus jika ingin membacanya sungguh-sungguh, padahal minggu-minggu ini adalah apa yang kusebut sebagai minggu kritis. Minggu-minggu menjelang pekan terakhir perkuliahan. Tugas-tugas besar berganti-rebut minta perhatian. Maka, untuk sementara, kuceritakan saja dulu padamu mimpi-mimpi itu, lantas mencoba mencari tahu artinya (jika memang ada dan begitu menariknya) belakangan.

Inilah yang membuatku menulis catatan ini untukmu: suatu waktu yang belum lama ini aku bermimpi tentang satu hal yang baru kusadari ternyata polanya cukup sering terjadi dalam mimpi-mimpiku yang lain. Barangkali tidak sesering itu, tapi paling tidak aku mengalaminya beberapa kali. Mimpi tersebut menggambarkan aku yang sedang melayang. Bukan terbang, sebab rasanya aku tidak punya kekuasaan untuk berkehendak atau menentukan arah seperti burung. Melayang barangkali juga tidak tepat betul. Aku lebih seperti pelampung kecil pada kail pancing. Mengapung di permukaan air, lalu ditarik ke sana kemari. Kadang tinggi-meninggi, kadang bergeser saja pada batas apung.

Aku juga ingat bahwa dalam mimpi-mimpi tersebut, lebih sering aku seperti ditarik pada punggungku. Aku melayang menghadap belakang. Pada satu mimpi, di bawahku adalah hamparan hijau yang luas. kadang bukit, atau hutan, atau padang. Pepohonan di bawah kakiku tampak seperti brokoli yang bercokol rapi. Aku melayang cukup jauh sampai mimpi itu berhenti begitu saja.

Baru semalam, aku bermimpi lagi (sesungguhnya aku bermimpi tiap malam, tapi soal melayang ini tentu kadang-kadang saja terjadinya). Dalam mimpiku aku melihat diriku sendiri yang sedang tidur, mungkin juga posisi tidurku yang sebenarnya saat bermimpi itu. Lalu aku merasa seperti ruh yang dipisahkan dari jasadnya. Perlahan-lahan ruhku melepaskan diri dari tubuh seperti stiker yang ditarik lepas dari kertas licinnya. Kaki dulu, lalu berangsur ke kepala (ataukah kepala dulu berangsur ke kaki?). Lalu aku melayang, lagi-lagi seperti ditarik pada punggungku, dari kamar ke ruang depan, menyaksikan bapak-ibu dan adikku tidur bergeletakan di atas kasur yang digelar di depan tivi (begitulah keluargaku tidur tiap malam Herman). Kelak, saat aku bangun, pastilah aku mengira pengalaman astral tersebut benar-benar terjadi padaku kalau saja tidak kuamati letak barang-barang yang tidak sesuai di ruang depan. Sisanya terasa cukup sama dengan aslinya.

Mungkin aku terlalu termakan oleh ide film Insidious, Herman. Diam-diam aku ingin memiliki kemampuan untuk mengalami perjalanan astral. Makanya aku bermimpi begitu. Lagipula, inilah sesungguhnya mimpi yang membuatku benaran menulis catatan ini:

Aku berada di kampus, tepatnya dalam kelas studio di gedung F. Barangkali bosan (mungkin aku sedang mengikuti kelas Tapak, kau tahu betapa membosankannya kelas itu bagiku), aku melangkah keluar menuju halaman berrumput. Saat itulah, lagi-lagi, aku ditarik melayang lalu diputar pada punggungku. Kusaksikan benda-benda semakin mengecil di bawah kakiku. Tapi langitnya, Herman, aku tidak pasti. Apakah malam, apakah subuh, ataukah sore atau siang yang mendung. Langitnya gelap, tapi tidak pekat. Mungkin abu-abu kecoklatan yang bening cerah, seperti kaca film yang dilihat dari dalam. Langit itu melatarbelakangi gedung-gedung di bawah yang tinggal kelihatan atap gentengnya.

Makin lama pemandangan yang kulihat makin gambar saja. Aku bahkan bisa melihat jelas warna genteng yang oranye terang, bukannya buram karena gelap. Jadi, mungkin latar belakang itu memang bukan langit, tapi cuma kaca film raksasa yang terlihat dari sisi dalam -meskipun kuingat ada bulan yang bersinar pucat di sana, tunggu, berarti itu memang malam hari?

night

Aku masih ditarik meninggi pada sebuah kail di punggungku dan melihat gedung-gedung di bawah kakiku. Saat itu aku merasa pemandangan tersebut -atap oranye cerah dan kaca film raksasa sebagai latar belakang- sudah benar-benar seperti kartu pos raksasa. Dan siapa sangka, saat aku sudah cukup tinggi, kulihat di seberang jauh sana ada kartu pos lain yang sama persis gambarnya diletakkan di sebelah kartu pos yang pertama. Tapi gambarnya dibalik! Keduanya diletakkan bersisian, tapi tidak berkebalikan kanan-kiri seperti dibatasi cermin, melainkan atas-bawah.

Satu hal, Herman, meskipun belajar tentang arsitektur dan akrab dengan gambar-gambar, dalam mimpi pengetahuan tentang perspektif benar-benar tidak berguna. Jadi, sekali lagi biar kugambarkan apa yang kulihat. Atap-atap gedung dengan genteng oranye cerah dan langit kaca film abu-abu kecoklatan bagiku awalnya adalah visual benda yang ditangkap oleh mata. Lama-lama kelamaan aku sadar itu hanyalah kartu pos berukuran raksasa, akulah yang terlalu kecil. Saat sadar demikian, ada kartu pos lain, dengan gambar sama persis dan ukuran sama besarnya, diletakkan terbalik di sebelahnya pada sisi yang jauh dariku. Pelajaran tentang perspektif sama sekali tidak akan membantu untuk memahami gambaran yang seperti itu.

Masih melayang dan meninggi, kali ini kulihat hitam pekat ternyata melatarbelakangi kartu pos-kartu pos raksasa tadi. Kali ini aku bisa lebih pasti soal langit yang menunjukkan malam hari. Apakah tadi kubilang ada bulan bersinar pucat pada “langit” kartu pos? Harus kuralat, tidak ada gambar bulan di kartu pos. Tapi memang ada bulan pada hitam langit malam yang kali ini jadi latar belakang kartu pos-kartu pos raksasa tadi. Biar kuulangi lagi agar lebih jelas. Apa yang awalnya kuanggap sebagai “langit” ternyata hanya gambar latar belakang pada sebuah kartu pos raksasa. Barangkali itu bukan langit, tapi kaca film raksasa karena warnanya yang abu-abu kecokelatan bening cerah. Tapi sekarang ada langit sungguhan -langit malam sebab warnanya lebih pekat gelap dan ada bulan menggantung- yang melatarbelakangi kartu pos-kartu pos raksasa bersisian-terbalik tadi.

Lalu, entah darimana datangnya, kulihat ada hantu melayang-layang di langit! Ada kuntilanak dan pocong, atau mungkin juga hantu jenis lain, sebab penampakan mereka tidak jelas betul, hampir mirip gambar kartun (astaga! barangkali jika aku melayang sedikit lebih tinggi akan kudapati kartu pos yang lebih besar lagi!).

Tapi aku sungguhan takut saat melihat hantu-hantu itu, Herman. Saat itulah aku seperti mendapat pencerahan kesadaran (kelak saat kupikirkan kembali gagasan tersebut aku merasa cukup konyol). Aku teringat film Insidious yang mengisahkan seorang anak dengan kemampuan astral projection, berkelana ke berbagai tempat dengan ruh yang terlepas dari jasadnya. Ia yang tidak paham menganggap perjalanannya melayang-layang kesana-kemari adalah mimpi belaka. Saat itulah ia mendapat kemalangan. Jiwanya yang muda berkelana terlalu jauh dan tersesat di The Further, dunia tempat roh-roh halus berkeliaran penasaran sebab mereka adalah jiwa tanpa jasad. Si anak tak dapat lagi kembali ke jasadnya. Jika tidak segera mendapat pertolongan, jasadnya dapat diambil alih oleh roh-roh jahat yang ingin lahir kembali ke dunia kasat sebab mereka ingin kembali merasai hidup dan berwujud.

Dan aku telah melayang cukup jauh sampai melihat hantu! Wajar jika aku takut nasib buruk yang sama menimpaku: menjadi jiwa yang tersesat sementara tubuhku di dunia yang kasat mengalami koma -itulah yang terjadi pada tubuh si anak saat ia mulai tersesat di The Further. Lebih buruk lagi saat tubuhku yang sudah kosong bagai selongsong dijadikan rebutan makhluk-makhluk bengis yang ingin kembali merasai hidup di alam wujud, meninggalkan jiwaku yang selamanya melayang terombang-ambing di langit.

Dikuasai rasa takut yang amat sangat, aku berusaha “membangunkan” diriku sendiri dari mimpi. Aku pejamkan mata sekuat tenaga, berusaha berkonsentrasi dan berharap aku sudah kembali ke atas dipanku yang nyaman saat membuka mata. Tidak berhasil! Aku coba beberapa kali dan masih tidak berhasil. Duniaku menciut jadi rasa takut.

Untunglah, mimpi itu kemudian berhenti begitu saja. Perlu aku ingatkan, meskipun saat kutulis ini bahkan aku sendiri pun menganggap mimpi tersebut sebagai kekonyolan, rasa takut yang kualami saat itu terasa sangat nyata. sebab mimpi kadang merancukan pikiran yang nyata-sadar dan nyata-tidak-sadar. Pernahkah kau tidur dan bermimpi, lalu merasa sudah bangun, padahal sesungguhnya “bangun tidur”-mu itu masih dalam alam mimpi? Kamu masih tidur. Kamu masih bermimpi. Tapi kamu memimpikan dirimu yang tidak lagi bermimpi. Kamu merasa nyata-nyata bangun saat nyatanya kamu belum bangun. Membingungkan ya?

Begitulah. Aku -yang merasa seperti tokoh film Insidious– langsung menyadari bahwa aku bermimpi, tapi “kesadaran mimpi”-ku terasa seperti “kesadaran nyata” sehingga aku mengira mimpiku terkait dengan alam nyata. “Kesadaran mimpi” mengelabuiku dengan membuat dirinya terasa seperti “kesadaran nyata”. Tipuan mimpi, kukira.

Sekarang, saat aku menulis kata ini, aku semakin sadar bahwa mimpiku tadi memang cuma mimpi yang acak adut. Kau tahu, Herman, ada mimpi yang jelmaan firasat, wangsit, atau wahyu. Mimpi-mimpi yang kudus -atau mungkin juga klenik. Tapi ada juga mimpi yang hanya bunga tidur. Yang terakhir ini mungkin keresahan atau beban pikiran yang tak cukup menghantui saat matamu melek. Atau bisa jadi cuma memori visual yang saling berkelindan dalam gambaran tidurmu seperti puzzle yang padu bentuknya tapi gambarnya campur aduk. Bunga tidur. Atau mungkin lebih tepatnya pengganggu kualitas tidur -konon tidur yang benar-benar nyenyak adalah tidur tanpa bermimpi.

Barangkali tak usah lagi aku pusing-pusing mencari arti mimpiku tadi. Ternyata menuliskannya saja sudah cukup bikin aku puas. Tapi, entahlah, buku Sigmund Freud masih ada padaku dan aku tampaknya tidak tega menganggurkannya begitu saja. Akan kubaca bab tentang mimpi itu meskipun aku tidak lagi terlalu penasaran.

Sampai di sini dulu. Senang bercerita padamu, Herman!

Sampai nanti,

RF